« »


Mukidi Numpak Bis - Mukidi (8 th) cah Klaten arep lungo, diterke simbokne nyegat bis.

Kernet bis: "Suroboyo, Suroboyo, bu?"

Simboke Mukidi: "Pak tulung nggih, mengke nek pun tekan Jombang, lare niki dikandani.

Kernet: "nggeh bu, tariiiikkk"

Nang terminal Solo Mukidi takon kernet bis, "Wes cedhak Jombang durung Lik ?"

Kernet: "Durung lee.. jek suwe"

Ora let suwe tekan Sragen, Mukidi takon maneh, "Wes tekan Jombang Lik ?"

Kernet: "Durung Lee.... jik uuuaduuooohh"

Mukidi bosen ora tekan-tekan. Akhire keturon. Bus terus mlaku arah Suroboyo. Ora kroso bis wes ngliwati Jombang. Kenek lali pesenane mboke Mukidi. Bareng kelingan, kernet langsung omong nang sopir, "Duuh kang, aku duso nang bocah kui, karo nuding Mukidi seng lagi turu nggleser.

Sopir: "Lho kenopo, to?"

Kernet: "Mau mboke nitipke, yen tekan Jombang bocahe tulung kandanono"

"Wah, lha piye kowe kui. Jombang wes kliwat adoh", Jawab sopire, bingung.

Tujune sopire apikan, gelem balik nang Jombang. Sak wise njaluk persetujuan karo penumpang liyane, mergo mesakke karo si Mukidi. Sak wise bis tekan Jombang, Mukidi digugah.

Kernet: "Lee... tangi lee. Wes tekan Jombang, ki", karo nggoyang goyang awakke Mukidi.

Mukidi njenggirat, "Wes tekan Jombang lik?", Karo grusa grusu mbukak kantong, ngetokke sangune; sego sambel, lawuhe iwak asin.

Kernet takon, "Arep mudhun kene lee..?"

"Ora Lik..... wong aku arep nang Suroboyo. Mau simbokku pesen, sangune mengko dipangan nek wes tekan Jombang wae yo le", jawab Mukidi karo muluk sego.

Kernet, sopir, lan kabeh penumpang muni bareng:
"WEDHUUUSS tenan cah iki.... tiwase mbaliiik!"


Penulis: Lek Tyo
Read More …
Categories: ,
SESUK YO LE . . .
Ilustrasi di ambil dari photobucket

SESUK YO LE (Besok Ya Nak) - Sewaktu kecil.. Saya tumbuh di pasar. Ibu saya berjualan es teh di pinggir pasar Klaten saat itu. 

Bagi kawan2 di Klaten, jika Anda tahu toko plastik sari utama. Di depan toko itulah ibu saya berjualan.

Setiap hari saya di sana, karena saat itu tak ada orang lain yg merawat saya. 
Bapak saya merantau mencari nafkah dikota yg lain. Ibu memenuhi kebutuhan harian kami dengan berjualan es teh.

Setelah sore kami pulang ke rumah kontrakan...
Dari pasar menuju rumah, banyak sekali toko-toko yg kami lewati dengan berjalan kaki. Dari toko makanan, jajanan, sampai mainan.

Saat melewati toko mainan. Saya berhenti..namanya anak kecil. Pingin punya. Hampir selalu begitu. Berhenti sejenak melihat mainan yg dijajar. Sambil membayangkan punya salah satu dari itu. Sejenak tidak peduli dengan apapun sampai ibu saya mendekati lalu berkata, 
"Sesuk yo le..  (besok ya nak)"
Dan kami pun berjalan lagi..

Saat melewati toko makanan juga demikian. Melihat ayam yg dibakar. Serasa ingin mencoba..namanya juga anak kecil. 
Dan makanan yg demikian tidak tentu kami makan sebulan sekali. Dan lagi.. Saya terdiam dan melihat. Sampai kemudian ibu saya datang mendekat dan berkata lagi,  "Sesuk yo le.. (besok ya nak)"..
Dan kami pun berjalan lagi..

Melewati toko jajanan pun juga sama. Saya berhenti saat melihat barisan chiki ball yg dipajang di etalase toko. 
Dan lagi kalimat ajaib   "Sesuk yo le.. (besok ya nak)".  Itu bisa membuat saya berjalan lagi.

Saya bersyukur dibesarkan dengan kalimat, "Besok ya nak..."
Karena kalimat itu sudah mengajarkan saya untuk bersabar.
Mengajarkan, bahwa tidak semua hal harus dimiliki saat ini jika memang belum mampu.

Meskipun sekarang saya baru tahu, bahwa kalimat itu terucap karena memang ibu tak cukup punya uang untuk membeli apa yg saya inginkan.

Kalimat itu juga menyadarkan saya sekarang. Bahwa ibu saya begitu hebat luar biasa.

Seandainya saya tidak dididik dengan kalimat "Sesuk yo le.."
Mungkin saat ini saya akan menjadi pribadi yg tak sabaran, pribadi yg tak mengenal rasanya menahan diri, bersyukur dan berani berjuang.

Ini sekaligus bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Di tengah jaman yg serba penuh dengan barang mewah saat ini. Memancing kita untuk setiap saat jadi gampang pingin. Pingin hp baru, mobil baru dsb.

Alhasil, bagi mereka yg tak sanggup menahan diri..
Pilihan singkat pun diambil, "Ngutang, nyicil, kredit dan apapun namanya.. 
Yg sering kita dapati menjadi penyebab dari hancurnya kehidupan banyak keluarga dan hilangnya ketenangan dari banyak jiwa.

InsyaAllah.. Yakin saja.., bahwa rezeki kita ada jalannya.
Sabar saja kawan. Asal kerja keras, lalu pastikan harus halal. InsyaAllah kelapangan rezeki akan hadir dalam kehidupan..

Tinggal sekarang,
Kita harus berani bilang ke diri masing-masing tatkala diri memang belum mampu memenuhi ini dan itu dengan kalimat :  


SESUK  YO  LE....


Sumber: Tetangga Sebelah
Read More …
Categories: